Hujan di Tanahku

Ceria ini, tiada tanding

Ceria ini, tiada tanding

Gemericik….tik..tik..tik..terdengar semakin cepat dan kemudian melambat, sungguh indah tiada tandingan. Pagi itu hari Minggu, dimana saatnya orang-orang beristirahat dari rutinitas yang menghimpit kehidupan mereka selama seratus empat puluh empat jam dalam satu minggu. Hujan di tanahku, hembusan angin dengan tipisnya serta harum tanah tersiram hujan yang mewangi mengingatkanku akan kebesaranNYA. Sungguh indah, sungguh nyaman suasana seperti ini.

Aku selalu tersenyum sumringah saat hujan turun menyirami tanahku, aku selalu merasakan ketika rintiknya yang lembut dan sejuk membasahi sebagian ragaku.Bahkan ketika para lelaki hidung belang merasakan nikmatnya orgasme ketika bersetubuh dengan pelacur dijalanan, itupun yang aku rasakan ketika hujan turun. Aku benar-benar merasakan nikmat dan suci dari turunnya hujan.

Namun mengapa engkau disalahkan ? Mengapa engkau dijadikan kambing hitam dari berbagai bencana alam yang dialami oleh manusia ? Tampaknya mereka belum mengenalmu hujan. Manusia dengan segala macam tingkah lakunya dengan tidak berdosa selalu menyalahkan hujan ketika banjir mendatangi mereka,manusia tidak pernah tahu bahwa banjir adalah buah dari bibit yang mereka tanam dengan sendirinya, Bukan karena hujan. Manusia tidak pernah menghargaimu hujan, manusia tidak pernah menghargai alam.

Inilah potret tanah airku, tanah air yang gemah ripah dan subur karena hujan. Manusia Indonesia dengan kemunafikannya harus lebih bersahabat dengan hujan, manusia Indonesia harus menjadi manusia dengan kepekaan yang tinggi terhadap hujan. Sehingga hujan akan menjadi sahabat manusia Indonesia, sahabat kita semua.

Penulis: Cheppy

Image: pinterest & dumaipos.com

Advertisements