Ini Dia Syaratnya, Supaya Indonesia Lebih Damai

“Kunci dari kehidupan adalah toleransi, karena keberagaman dan perbedaan tidak akan pernah menjadi masalah jika toleransi ditegakan,” tegas Sias Mawarni.

Terlihat lebih muda 20 tahun, itulah kesan pertama yang ditangkap ketika kamu bertemu wanita yang aslinya berusia 70 tahun ini. Sias Mawarni Saputra, perempuan muslim keturunan tionghoa adalah wanita yang sangat mengedepankan kerukunan antar umat beragama. “Jadilah orang yang selalu bersikap baik ke semua orang tanpa memandang apapun,” tegas wanita yang memiliki nama tionghoa Li Pi Ing ini.

Sias belajar banyak dari orang tuanya, rasa syukur dan kebaikan yang ditanamkan orang tua kepadanya selalu ia lakukan sampai saat ini. Hal tersebut jelas membuat hidupnya saat ini dipenuhi dengan keberkahan yang membuatnya merasa sangat beruntung karena masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk hidup di usia 70 tahun. “Kita nggakpernah tau akan sampai kapan hidup, yang saya tahu kalau kita berperilaku baik, umur kita akan panjang, maka jadilah orang yang baik ya!” jelasnya.

Pemilik Ragusa Es Italia yang terkenal di Jakarta. Foto: koran-jakarta.com

Pemilik Ragusa Es Italia yang terkenal di Jakarta. Foto: koran-jakarta.com

Kebaikannya itu pula yang membuat dirinya mendapatkan durian runtuh, sebuah tempat es krim ragusa ternama milik orang Italia, dihibahkan kepadanya pada tahun 1973. Sias memang pernah bekerja di restoran tersebut bersama sang suami, sehingga nggak heran jika restoran tersebut diberikan oleh orang Italia kepadanya. Di tangan ibu 3 anak ini, es krim ragusa menjadi lebih terkenal dan favorit, terlebih dia menambahkan variasi di salah satu restorannya yang terletak di Harmoni dengan menu chinesee food. Nggak lama, restoran tersebut pun semakin ramai disambangi beberapa orang yang ingin mencicipi menu khas tionghoa dengan harga yang relatif murah.

Di tempat itu pula, Sias menerapkan beberapa ilmu yang ia miliki. Banyak anak-anak kurang mampu yang berada di sekitar Harmoni diajaknya makan dan belajar gratis di tempat tersebut. Sehingga tempat tersebut bukan hanya sebagai restoran biasa, namun juga tempat berkumpul dan belajar beberapa anak-anak kurang mampu. Bersama Sias, anak-anak tersebut diajarinya budi pekerti, menari tradisional, bahkan belajar bahasa china. “Saya senang betul membuat orang menjadi tahu banyak hal, untuk itulah saya rela menjadi guru walau gajinya kecil, & anak-anak yang datang kesini itu membuat saya menjadi berarti,” aku wanita yang juga menyambangi bisnis properti.

Wanita keturunan Tionghoa ini, ternyata sosok yang haus akan ilmu, ia pernah kuliah di beberapa universitas seperti, Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya dan FKG Univ. Prof.Dr. Moestopo (tidak tamat). Namun gelar akademisnya kemudian didapat dari Jurusan Sastra Cina, Universitas Dharma Persada dan Program Magister, jurusan Human Resources Development, STIE Supra, Jakarta. Ia pun pernah dikirim untuk belajar sastra China di Universitas Islam Indonesia (UIN) Syarief Hidayatullah, di sana ia belajar banyak tentang kebudayaan China dan bangsa-bangsa lainnya.

Mengajar anak-anak jalanan tentang agama, sejarah, bahasa china, serta kesenian.  Foto: picasa.

Mengajar anak-anak jalanan tentang agama, sejarah, bahasa china, serta kesenian.
Foto: picasa.

Wanita yang sangat akrab dengan siapapun ini juga aktif dalam seni kebudayaan, tercatat sejak mendirikan Yayasan Seni Indonesia Baru (YSIB) pada tahun 1999, ia aktif berkeliling dunia untuk memperkenalkan kebudaayaan Indonesia lewat seni tari. “Saya ingin memperkenalkan seni dan kebudayaan Indonesia lewat seni tari, makanya saya suka mengikutsertakan anak-anak untuk ikut lomba menari di beberapa negara seperti Korea Selatan yang belakangan kita sambangi,” tutur Sias.

Sias pun rela dibayar seperak atau nggak sama sekali demi mencerdaskan bangsa, dia pun nggak segan mengundang siapapun untuk datang ke restorannya di Harmoni untuk makan dan belajar, Sias akan datang dan mengajarkan apapun tentang budi pekerti, seni dan kebudayaan, atau bahkan sastra China. “Siapapun kalau mau belajar atau sekedar makan bisa datang ke sini, saya akan dengan senang hati menerima dan mengajarkan apapun yang kalian mau,” jawab wanita yang tinggal di daerah Pasar Baru ini.

Penulis: Cheppy

Foto: koran-jakarta.com

*Tulisan ini pernah dipublish di tukarposisi.com 

Advertisements